Maluku Utara Menanti Investor

PROVINSI Maluku Utara terletak di bagian utara Kepulauan Maluku ini sejak dahulu sudah terkenal kaya akan rempah-rempahnya bahkan sampai ke manca-negara. Dilihat dari letak geografisnya, di sebelah timur Provinsi Maluku Utara berbatasan langsung dengan Laut Halmahera, sebelah barat berbatasan dengan Laut Maluku, sebelah utara berbatasan dengan Samudera Pasifik dan sebelah selatan berbatasan dengan Laut Seram. Secara administratif provinsi ini terdiri dari 6 (enam) kabupaten dan 2 (dua) kota, yaitu Kabupaten Halmahera Utara, Halmahera Barat, Halmahera Tengah, Halmahera Selatan, Halmahera Timur dan Kabupaten Kepulauan Sula, Kota Tidore dan Kota Ternate yang sekaligus sebagai ibukota provinsi.
Luas wilayah provinsi ini 33.321,22 Km2 dengan jumlah penduduk sampai tahun 2007 sekitar 910.656 jiwa. Angka pertumbuhan penduduknya sebesar 0,04 %, dengan kepadatan penduduk mencapai 26,10 jiwa/Km2.
Total PDRB Provinsi Maluku Utara sebesar Rp. 2,23 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari sektor pertanian sebesar Rp. 792 miliar atau sekitar 35,4% dari total PDRB, disusul sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar Rp. 540 miliar (24,2%) dan sektor industri pengolahan sebesar Rp. 343 miliar (15,3%).
Nilai ekspor provinsi ini pada mencapai sekitar US$ 83,7 juta per tahun dengan kontribusi terbesar disumbang ekspor nikel sebesar US$ 51,7 juta, kayu lapis US$ 26,2 juta, kayu olahan US$ 4,5 juta, kayu gergaji US$ 897 ribu dan ekspor ikan tuna cakalang sejumlah US$ 296 ribu.
Provinsi ini memiliki unggulan untuk sub sektor perkebunan dan sub sektor perikanan. Komoditi unggulan dari sub sektor perkebunan adalah kakao dan kelapa dalam sedangkan komoditi unggulan dari sub sektor perikanan adalah perikanan tangkap.
Untuk menunjang kegiatan perekonomian provinsi ini, tersedia jalan darat sepanjang 2.706,27 km, 8 (delapan) pelabuhan laut yaitu Tobelo, Jailolo, Gebe, Buli, Babang, Sanana, Gita, dan A. Yani serta bandar udara sebanyak 12 (dua belas) yang tersebar di Kabupaten Halmahera Utara, Halmahera Barat, Halmahera Tengah, Halmahera Timur, Halmahera Selatan, Kepulauan Sula, dan Ternate.
Secara geografis, Provinsi Maluku Utara berada pada 3 derajat Lintang Utara hingga 3 derajat Lintang Selatan dan 124 derajat hingga 129 derajat Bujur Timur. Wilayah ini dilintasi khatulistiwa, tepatnya di Halmahera Tengah, yang memberi efek penting pada pemanasan air laut yang bergerak dari Samudera Indonesia ke Pasifik.
Batas-batas yang mengitari wilayah Maluku Utara semuanya adalah laut. Sebelah timur berbatasan dengan Laut Halmahera. Sebelah barat dengan Laut Maluku. Sebelah utara ada Samudera Pasifik, dan sebelah selatan berbatasan dengan Laut Seram.
Secara topografis, wilayah Maluku Utara sebagian besar bergunung-gunung dan berbukit-bukit. Banyak dijumpai pulau-pulau vulkanis dan pulau karang, sedangkan sebagian lainnya merupakan dataran biasa.
Pulau Halmahera mempunyai banyak pegunungan yang rapat–mulai dari Teluk Kao, Teluk Buli, Teluk Weda, Teluk Payahe dan Dodinga. Di setiap daerah terdapat punggung gunung yang merapat ke pesisir, sedangkan pada daerah sekitar Teluk Buli (di timur) sampai Teluk Kao (di utara), pesisir barat mulai Teluk Jailolo ke utara dan Teluk Weda ke selatan dan utara ditemui daerah daratan yang luas. Pada bagian lainnya terdapat deretan pegunungan yang melandai dengan cepat ke arah pesisir. Pulau-pulau yang relatif sedang (Obi, Morotai, Taliabu, dan Bacan) umumnya memiliki dataran luas yang diselingi pegunungan yang bervariasi.
Karena sebagian besar Provinsi Maluku Utara, terutama bagian tengah dan utara, merupakan daerah pegunungan. Namun secara geologi bukanlah pegunungan yang seragam. Artinya, bahan penyusunnya bervariasi. Pegunungan yang mendominasi bagian utara dan timur laut Semenanjung Halmahera juga berbeda secara geologis.
Semenanjung utara disusun oleh formasi gunung api (andesit dan batuan beku basaltic). Pada semenanjung timur laut ditemukan batuan beku asam, basa dan ultrabasa serta batuan sediment. Daerah pegunungan yang ada merupakan bentangan lahan dengan puncak tajam dan punggung curah tertoreh serta lereng yang curam (>40%).
Di semenanjung utara Halmahera terdapat barisan gunung api aktif dan non-aktif dengan bentuk dan struktur yang sangat khas. Pada bagian ini dataran ailuval tidak ditemukan, tetapi memasuki daerah Kao, ditemukan dataran ailuval yang luas pada daerah pedalaman, juga dataran vulkanik yang berombak dan dataran ailuval berawa secara lokal.
Pada kedua semenanjung (baik utara maupun timur laut) daerah pegunungan itu masih dikelilingi oleh kawasan pegunungan dan perbukitan yang berkembang dari bahan yang sama. Pulau Morotai banyak memiliki kesamaan dengan Pulau Halmahera bagian utara, yang dicirikan oleh gunung-gunung yang berkembang dari batuan sediment dan batuan beku basa.
Pada semenanjung bagian selatan Halmahera lebih di dominasi oleh daerah gunung, terutama berkembang dari bahan-bahan sedimentasi batu napal dan batu gamping (marl dan limestone). Pada bagian ini terbentang dataran sempit ailuvial arah timur-barat.
Kawasan sepanjang pantai barat Halmahera terbentang sejumlah pulau besar dan kecil dimulai dari Ternate bagian utara sampai Obi bagian selatan. Pulau-pulau kecil di bagian utara umumnya merupakan daerah vulkanik yang tersusun dari bahan andesit dan batuan beku basaltic dengan lereng curam (30-45%) sampai curam (>45%).
Iklim wilayah Maluku Utara memang unik. Wilayah ini dipengaruhi oleh iklim laut tropis dan iklim musim. Oleh karena itu iklim di Maluku Utara sangat dipengaruhi oleh lautan (termasuk luas perairan) dan bervariasi antara tiap bagian wilayah. Dikenal ada empat daerah iklim; Halmahera Utara, Halmahera Tengah/Barat, Bacan dan Kepulauan Sula. Temperatur rata-rata tahunan yang diukur dari stasiun Duma Galela, Ternate dan Tobelo antara 25,6 derajat C – 26,1 derajat C dengan curah hujan rata-rata tahunan antara 2.138 mm – 3.693 mm.
Struktur tanah di daerah Maluku Utara menunjukkan sifat-sifat yang berbeda, mulai dari Morotai bagian utara sampai Sulabesi di selatan. Perbedaan ini disebabkan faktor iklim (curah hujan dan suhu) yang tinggi. Selain itu, yang membedakan sifat-sifat tanah adalah tipe batuan/bahan induk dan kemiringan lereng yang berkolerasi dengan kedalaman efektif perakaran serta vegetasi di tanah tempatnya berkembang.
Selain iklim dan vegetasi, geologi Provinsi Maluku Utara sangan erat hubungannya dengan penyebaran sifat-sifat tanah. Keadaan geologi dibarengi pula proses pelapukan dan pencucian pada kondisi suhu dan curah hujan yang bervariasi. Maka tanah di daerah Maluku Utara berada dalam suatu perkembangan dan kedalaman yang bervariasi dengan drainase baik, tekstur tanah halus, kesuburan yang relatif rendah.
Pada daerah-daerah perbukitan dan pegunungan yang berlereng curam sampai sangat curam dengan penutupan vegetasi yang jarang, secara relatif juga mempengaruhi erosi permukaan. Oleh karena itu sering ditemukan tanah-tanah dengan kedalaman solum dangkal sampai sedang dengan tingkat perkembangan lemah dan sedang.
Selain itu, Provinsi Maluku Utara memiliki beragam jenis flora dan fauna. Beberapa diantaranya tidak terdapat di bagian lain wilayah Indonesia, seperti cengkeh afa dan kelapa raja. Beberapa fauna merupakan endemik Maluku Utara seperti kakatua putih (Cacatua Alba), cendrawasih gagak (Lycocorax Pyrrhopterus), dan gagak Halmahera (Corvus Validus). Selain itu juga burung yang termasuk langka di dunia yakni burung bidadari (Semioptera Wallcei) yang terdapat di Pulau Halmahera.

Ditulis dalam Tak Berkategori. Tag: . Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: