Peluang Investasi dan Prospek Usaha

PELUANG investasi khusus perikanan di provinsi Maluku Utara cukup menjanjikan. Hingga kini, baru dua perusahaan perikanan yang berinvestasi di daerah seribu pulau ini yakni, PT Mina Samsuma di Pulau Makian dan PT Bayatri di Pulau Bacan. Keduanya berada di Kabupaten Halmahera Selatan. Kedua perusahaan ini masih memfokuskan pada komoditas pelagis. Padahal komoditas dominan seperti cakalang baru sekitar 8,24%, don tuna baru mencapai 4,01 % belum dimanfaatkan, sehingga peluang usaha dan investasi masih sangat terbuka. Sementara ikan dasar; dari 40% potensi lestari saat ini baru dimanfaatkan 5,8%. Itupun dalam bentuk frozen. Ikan kerapu; potensi yang sangat besar ditunjang oleh nelayan lokal yang cenderung untuk menangkap ikan kerapu dan menyebar seluruhnya di perairan Maluku Utara. Pelagis kecil; terutama ikan teri sangat tinggi prospeknya mengingat struktur alat tangkap yang ada. Alat tangkap bagan relatif banyak bila dibandingkan dengan alat tangkap lain. Di samping teri, juga masih ada layang, kembung dan julung-julung. Begitu pula Hiu; pemanfaatan hanya pada sirip sedangkan dagingnya sebagai limbah. Hal ini merupakan peluang investasi yang berprospek. Ikan hias; potensi cukup besar karena provinsi ini merupakan provinsi kepulauan dengan dasar perairan terdiri dari karang yang merupakan habitat dari ikan hias. Namun pemasaran yang dilakukan masih terbatas di kalangan nelayan. Ini merupakan peluang usaha yang besar, apalagi potensinya merata di seluruh perairan Maluku Utara. Sedangkan usaha non ikan (non fish), terdapat Crustacea; seperti kepiting bakau dan lobster terdapat pada perairan karang yang sangat dominan di perairan Maluku Utara. Usaha penangkapan cukup besar dengan jenis yang paling dominan yaitu lobster bambu, catik, mutiara serta lobster hitam. Pengolahan hasil perikanan merupakan salah satu komoditas perikanan yang dihasilkan oleh masyarakat. Berdasarkan skala usaha dan daerah pemasaran pengolahan perikanan ada yang berskala rumah tangga atau skala kecil, skala menengah dan skala besar. Perikanan pengolahan skala kecil di Provinsi Maluku Utara terdiri dari jenis olahan, seperti pengeringan, penggaraman, pengasapan, fermentasi, dan pemindangan. Pengolahan skala kecil memiliki sarana dan prasarana yang masih terbatas dengan standar sanitasi dan juga belum diuji secara organoleptik. Distribusi pemasaran terbatas pada pasar lokal dan sebagian kecil diantarpulaukan. Hasil inventarisasi unit pengolahan skala kecil di Provinsi Maluku Utara berjumlah 53 unit tersebar di Kota Ternate 11 unit dengan 5 jenis olahan, Kabupaten Halmahera Barat 33 unit terdiri dari 8 jenis olahan, dan Kota Tidore Kepulauan 9 unit dengan 6 jenis olahan. Pengolahan skala memiliki distribusi pemasaran yang cukup luas dan telah dikembangkan oleh pengusaha lokal maupun nasional dengan jenis usaha meliputi kegiatan pengeringan, penggaraman, dan pembekuan. Hingga tahun 2007 tercatat 9 perusahaan pengolahan di Provinsi Maluku Utara dan menghasilkan produk olahan yang didistribusikan ke Jakarta, Surabaya, Makassar, Gresik dan Manado. Jenis produknya antara lain teri kering, fillet ekor kuning dan ikan dasar, uburubur asin, cumi-cumi asin dan ikan asin. Produksi pengolahan skala Besar di Provinsi Maluku Utara telah menggunakan teknologi pengolahan secara modern yang berorientasi ekspor. Sampai tahun 2007 terdapat 5 perusahaan skala besar yang menghasilkan 6 jenis olahan yang diekspor ke pasar tradisional di Jepang, Cina dan Hong Kong. Produksi perikanan pengolahan skala modern itu diekspor oleh 6 perusahaan swasta dan 2 koperasi primer. Jumlahnya mencapai 12.648, 715 ton atau 72,84% dengan nilai produksi sebesar Rp. 585.956.450,- atau 96,79% dari total produksi perikanan pengolahan. Beberapa catatan untuk usaha pengolahan ini adalah peluang usaha dari diversifikasi produk. Pemasaran ekspor masih dominan frozen, sedangkan produk diversifikasi seperti tuna blok, shasimi, tataki, lion cakalang dan filet masih sedikit yang diolah. Ubur-ubur; potensi perairan yang menghasilkan ubur-ubur cukup besar, produksinya mencapai ± 50-60% dalam 1 (satu) musim, ubur-ubur ini dapat diproses menjadi produk siap ekspor. Pembuatan ekstrat rumput taut; dari jumlah produksi rumput laut 500 ton/tahun merupakan bahan baku untuk menunjang pembuatan ekstrat. Pelagis besar yang terdapat di perairan Maluku Utara merupakan bagian dari Share Stock Local Pasific, yang meliputi jenis tuna (Thunis Spp), cakalang (Katsuwonus pelamis), tenggiri (Sconberanorus Spp), cucut (Flasmobranch), layaran (Isthiophorus Spp), setuhuk (Xeplias Spp) dan lemadang (Coryphaena Spp). Tingkat pemanfaatan pelagis besar, terutama komoditas dominan seperti cakalang 8,24% dan tuna baru mencapai 4,01% sehingga peluang usaha dan investasi masih sangat terbuka. Sedangkan untuk cucut hanya sirip yang dimanfaatkan sedangkan dagingnya belum dimanfaatkan. Pelagis kecil merupakan jenis yang paling banyak tertangkap sebagaimana terlihat pada struktur alat tangkap yang digunakan nelayan pada perairan Maluku Utara. Pelagis kecil terdiri dari 16 spesies dan didominasi oleh 6 spesies besar seperti layang (Decapterius Spp), kembung (Pestrilugen Spp), teri (stalephorus Spp), lemum (Sardinela lemuru), selar (Selarodes Spp) dan julung-julung. Pemasaran pelagis kecil selama ini masih didominasi pada pasar lokal dan antarpulau. Dengan demikian masih terbuka peluang usaha untuk pasar nasional dan ekspor. Perairan Maluku Utara dengan substrat lumpur berpasir dan mempunyai kawasan terumbu karang merupakan daerah penangkapan sumber daya demersal dan ikan karang yang potensial. Jenis-jenis seperti kakap merah (Prestoporoides), (Lethrinudae), ekor kuning, pisang-pisang (Coesionidae), baronang dan jenis-jenis kerapu seperti kerapu sunu (Plectoponus), napolleon wrase, kerapu bebek (Cromileptus Altivelis). Perairan Maluku Utara merupakan daerah terkaya akan jenis-jenis ikan hias laut. Tak kurang 166 jenis ikan hias. Adapun jenis-jenis yang dominan adalah Parnacartidae (angel fish), jenis Zantidae (ikan bendera), jenis Scorpaenidae (ikan lepu), jenis Labridae, jenis Chaetoddutidae (ikan kape-kape). Disamping non ikan (Non Fish) yang meliputi Rumput Laut. Perairan Maluku Utara sangat potensial untuk budidaya rumput taut. Luas areal budidaya ini mencapai ± 500 Ha. Potensi yang baru dimanfaatkan sebesar 500 ton/tahun. Olahan rumput laut merupakan bahan-bahan pembuat ekstrat, sehingga peluang investasi pembuatan ekstrat sangat terbuka. Disamping itu, rumput laut, teripang merupakan salah satu komoditas non fish di Maluku Utara yang bernilai ekspor. Diperkirakan ada sekitar 5 jenis teripang, yang banyak ditemui terutama jenis Holothurea dan Thelonela Stichopus. Sesuai dengan habitat dan daerah penyebarannya hampir seluruh perairan Maluku Utara terdapat jenis-jenis teripang bernilai ekonomis penting. Saat ini teripang hanya diolah nelayan secara sederhana dengan pasaran masih bersifat lokal. Jenis teripang yang banyak ditangkap adalah teripang susu, teripang joko, teripang kapak, dan cepatu. Selain itu, jenis kerang yang tersebar di perairan Maluku Utara antara lain tiram, simping, remis, kima, triton, batu laga dan lain-lain. Khusus untuk mutiara, potensi perairan yang dikembangkan adalah perairan Pulau Bacan, perairan Obi dan Teluk Kao. Peluang yang lain adalah cumi-cumi, yang ditangkap umumnya adalah jenis cumi pena/jarum (Urotheulis boathschi) dan cumi-cumi botol. Pemasaran untuk komoditas ini masih bersifat lokal atau antarpulau (interinsuler). Produksi cumi-cumi diperkirakan mencapai 30 ton/bulan. Selain cumi-cumi, Kepiting juga tersebar pada beberapa wilayah di antaranya sekitar perairan Pulau Gebe, Kecamatan Patani. Di wilayah ini terdapat jenis kepiting kelapa atau yang biasa disebut ketam kenari. Jenis kepiting laut rajungan tersebar pada beberapa daerah Pesisir Halmahera bagian selatan. Kepiting bakau terdapat pada hampir sebagian bakau yang tersebar di pesisir Halmahera. Jumlah produksi untuk komoditas ini diperkirakan antara 10 sampai 50 ton per bulan, namun sampai saat ini belum ada perusahaan/investor yang menangani masalah pemasaran, baik nasional maupun global, sehingga jenis komoditas ini hanya dipasarkan untuk kebutuhan lokal. Disamping kepiting, Lobster juga banyak ditemukan di perairan Morotai, Bacan, Sula dan Loloda. Jenis lobster yang terdapat di wilayah tersebut adalah jenis-jenis seperti lobster bambu, batik dan mutiara. Produksi lobster diperkirakan berkisar antara 10-30 ton/bulan. Umumnya dipasarkan untuk antarpulau seperti ke Manado (Sulawesi Utara), dan Makassar (Sulawesi Selatan). Sementara untuk produk olahan yang ada adalah ikan kayu, tataki (cakalang), blok tuna, sashimi dan ikan asin. Hingga kini belum ada perusahaan yang mengelola produk olahan ini. Produk olahan lainnya yang prospektif antara lain ikan asin. Saat ini oleh beberapa pengolah telah dibuat dalam kemasan yang siap dipasarkan. Namun karena masalah jaringan pemasaran yang terbatas, pengolah-pengolah tersebut masih mencari mitra terutama untuk pasaran ke luar daerah. Ubur-ubur atau yang lebih dikenal dengan jelly fish terdapat pada perairan Teluk Kao dan Bacan. Untuk komoditas ubur-ubur, produksi yang dapat dihasilkan diperkirakan berkisar antara 500 sampai 700 ton/bulan. Terdapat beberapa jenis ubur-ubur seperti jenis putih dan merah. Kebanyakan komoditas ini diolah oleh nelayan lokal untuk dipasarkan ke luar daerah seperti Jakarta.

Ditulis dalam Tak Berkategori. Tag: . Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: