Kronik Perang Gaza

DENGAN ditariknya pasukan Israel dari Jalur Gaza, jelaslah terpampang lingkup kehancuran dan tragedi kemanusiaan di kawasan itu. Kedua belah pihak berupaya memenangkan sebuah perang yang berakhir tanpa satu pun harapan nyata untuk dicapainya perdamaian yang langgeng.

Hari itu Rabu tanggal 21 Januari, hari dimana tentara Israel terakhir ditarik dari Jalur Gaza, sebuah jalur yang membujur di bagian pantai Mediterania dengan luas hanya 360 kilometer persegi dan menjadi titik paling mendidih dalam politik global.

Kini, banyak penduduk Gaza kembali ke rumah-rumah mereka yang sudah luluh lantak, mengakrabi lagi kehidupannya dan dunia politik mereka. Ghazi Hamad, seorang pejabat Hamas yang pragmatis namun dengan pengaruh kekuasaan yang melemah, berdiri di sebuah taman di Rafah dan berbicara mengenai perdamaian.

Mohammed Abu Ahmed, sang penyelundup, kembali menggali tanah untuk empat terowongannya yang menghubungkan Jalur Gaza ke Mesir. John Ging, wakil Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di Gaza, memeriksa sekolah-sekolah, rumah sakit-rumah sakit dan pusat-pusat pelayanan sosial yang semuanya terkena bom Israel, dalam upaya memulihkan operasi kerja organisasinya.

Klan Samuni dari Saitun, berdiri di atas bau busuk kematian di reruntuhan sebuah bangunan yang pernah menjadi rumah mereka, meratapi 48 anggota keluarga mereka yang perlaya selama perang.

Abu Hamza, seorang pejuang Hamas yang tidak jadi memuntahkan satu pun peluru dari senapannya, menanggalkan seragam tempurnya. Dia tidak pernah bertempur melawan musuh.

Dr. Ezzeldeen Abu al-Aish, seorang dokter Palestina yang bekerja di Israel, berkendara menuju Gaza melalui pintu perbatasan Erez –satu-satunya orang yang menyeberang ke Gaza hari itu– untuk menjemput empat anak-anaknya yang selamat.

Perang telah berakhir –setidaknya untuk sekarang– 22 hari, 13 Israel mati, dan sekitar 1.300 Palestina meninggal. Dunia Arab gaduh, sementara masyarakat internasional mengkritik Israel atas penggunaan kekerasan yang tidak proporsional. Di Amerika Serikat, Presiden Barack Obama yang baru dilantik memperingkatkan kedua belah pihak bertikai untuk menghormati gencatan senjata.

Para pejabat politik dan militer di Israel puas atas hasil perang. Potensi deteren (kemampuan menggertak) militer Israel tercapai, kata seorang pejabat senior pemerintah yang juga mengatakan hasil itu adalah sangat mungkin menjadi sasaran perang yang sangat penting dari negaranya setelah kampanye perang Lebanon yang gagal dua setengah tahun silam.

Dampak buruk terhadap citra buruk Israel relatif kecil, kata pejabat Israel itu. Eropa dan Amerika bisa menjadi lebih atau kurang bersimpati pada Israel, dan para penguasa Arab akan tenang kembali. Apakah itu berarti perang ini berhasil?

Kronologi Perang
Tanggal 27 Desember pukul 11.30, saat jet-jet tempur F-16 dan helikopter-helikopter tempur Apache dan Cobra tinggal landas, pemimpin Hamas Ghazi Hamad duduk santai di Rafah di selatan Jalur Gaza, membaca satu buku tentang kehidupan wangsa Arab di Israel.

Anak-anaknya bermain di taman depan rumahnya, dan matahari menyinari sekeliling belukar pohon zaitun jalanan yang diapit oleh pohon-pohon palem.

Hamad sedang membuka halaman buku itu manakala dia dikejutkan oleh suara menggelegar di udara yang beberapa detik kemudian disusul sebuah ledakan yang sangat keras. Awan debu tiba-tiba muncul ke atas langit tepat di bawah markas besar kepolisian Gaza, beberapa ratus meter dari tempatnya berdiri.

Israel telah membom kantor polisi seperti telah mereka lakukan ke tempat-tempat lainnya di seluruh Jalur Gaza, yang menandai dimulainya Operation Cast Lead.

Fase pertama, bombardemen udara telah dimulai. Sebuah serangan Israel yang sudah lama diramalkan Hamad bakal terjadi. Sampai kesempatan terakhir, dia mengirimkan memo ke Kota Gaza dan Damaskus memperingatkan politbiro Hamas dan mencegah roket-roket Qassam ditembakkan ke Israel, setelah gencatan senjata enam bulan. Namun mereka sudah berhenti mendengarkan saran Hamad sejak lama.

Hamad adalah juru bicara pemerintah Hamas tiga tahun lalu, segera setelah grup perlawanan Palestina ini memenangkan pemilu di Jalur Gaza. Hamad mewakili kalangan baru yang pragmatis. Namun karirnya segera berhenti setelah dia menulis satu artikel yang mengkritik kepemimpinan militer karena menembakkan roket-roket ke Israel.

Tatkala dia melihat bom-bom dijatuhkan di Rafah hari itu, maka itu menandai kesalalan politiknya. Opsi satu-satunya yang tersisa bagi Hamad adalah mamanfaatkan pengaruh yang tersisa padanya. Dengan menggunakan telepon selulernya, dia mengirimkan ambulans-ambulans, berbicara dengan para dokter dan mengungsikan delapan anaknya ke beberapa rumah saudara-saudaranya.

Pejuang Hamas
Kini giliran pejuang Palestina bernama Abu Hamza al-Muhadjir untuk bertarung. Pejuang Hamas berusia 16 tahun yang mukanya lembut berjenggot itu, menutupi wajahnya dengan penutup kepala serba hitam. Dia adalah anggota Brigade Qassam yang menembakkan roket-roket ke Israel. Hari itu tanggal 27 Desember dan Abu Hamza ditempatkan di Penjara Saraya di Jalur Gaza.

Dia hanya pernah menembakkan senapan Kalashnikov buatan China miliknya selama di kamp pelatihan, dan dia tidak tahu bagaimana dia akan menggunakan senjata itu manakala bertempur menghadapi pasukan khusus Israel.

Abu Hamza telah bergabung dengan Hamas sejak dua tahun lau. Sebelum itu, dia bekerja untuk Fatah. Dendamnya pada Israel tidak lebih besar dibanding rata-rata orang Palestina, tetapi dia berterimakasih untuk bayarannya.

Bom-bom Israel mulai berjatuhan di Jalur Gaza hanya beberapa saat sebelum sore, tetapi grup tempurnya segera menyembunyikan diri. Hari ini, militer Israel menjatuhkan 100 ton bom ke 50 target dengan membunuh 225 warga Palestina termasuk kepala kepolisian Hamas.

Gambaran malam penuh api menyelimuti Gaza disiarkan oleh televisi ke seluruh dunia, warga Palestina yang marah terdengar mencaci Israel dalam Bahasa Inggris sebisa mereka, dan seorang pria berteriak siapa yang akan bertugas di hari-hari dan minggu-minggu mendatang untuk menjelaskan Israel kepada dunia.

Mark Regev adalah juru bicara pemerintah Israel. Dia berulangkali menandaskan posisinya dengan jelas dan menyeluruh, tanpa emosi. Hari itu, dia berkata para reporter, “Tidak ada bangsa yang mau menyaksikan penduduknya menjadi target serangan.”

Penggali Terowongan
Di hari kedua, Israel membom terowongan-terowongan penyelundupan Rafah, meninggalkan kepundan maha dalam di sepanjang perbatasan dengan Mesir. Terowongan-terowongan itu adalah salah satu sasaran utama Israel dalam perang kali ini, karena menjadi saluran menuju Jalur Gaza, tidak hanya minyak zaitun, bensin dan rokok, tetapi juga Kalashnikov, bahan peledak dan roket-roket.

Mohammed Abu Ahmed (28), membuat empat terowongan. Enam bulan sebelum perang, katanya, adalah masa-masa yang sangat menguntungkannya. Tidak heran, terowongan-terowongan ini membuatnya menjadi seorang kaya raya.

Dia sedang menuju salah satu terowonganya, sambil menenteng bungkusan berisi enam potong roti panas berisi ayam untuk para pekerjanya di shift awal, makakala dia mendengar ledakan untuk pertamakalinya.

Dia langsung melemparkan plastik berisi roti isi itu, lari menuju gubug kecil lalu memijit tombol intercom tiga kali. “Cepat naik,” dia berteriak. “Saya akan membongkar mesin dan kompresor.”

Abu Ahmed, lebih muda dibanding beberapa pekerja lainnya, dengan tenang beroperasi. Dia telah bekerja sejak terowongan itu dibuat 15 tahun lalu. Dia telah menyaksikan terowongan-terowongan ambruk dan dia pula yang membangunnya lagi.

Dalam beberapa jam kemudian, orang-orangnya, di depan bedeng mereka, memuatkan lusinan motor listrik, roda kabel, palu bor dan kompresor udara keatas truk untuk kemudian disembunyikan di satu tempat sehingga bisa digunakan lagi setelah perang.

Sementara itu, para dokter di Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza menunjukkan keterkejutannya atas begitu banyaknya orang yang datang ke rumah sakit mereka dengan jenis luka bakar yang tidak pernah mereka saksikan sebelumnya: luka menganga dan mengepul dari tubuh dengan unsur kimia yang aneh, daging, lemak dan kulit mereka melepuh menampakkan tulang-tulang putih mereka. Para dokter lalu menyimpulkan bahwa para korban ini terkena bom fosfor.

Pada 29 Desember, hari ketiga perang, juru bicara pemerintah Israel Mark Regev berkata: “Musuh kami bukan rakyat Gaza. Sebaliknya, kami berupaya menciptakan perdamaian dan rekonsiliasi dengan Palestina.” Israel melanjutkan bombardemen udaranya, menyerang kantor Perdana Menteri Hamas Ismail Haniya dan untuk pertamakalinya, sebuah masjid dan Universitas Islam Gaza.

Israel mengklaim bahwa senjata-senjata telah disembunyikan dan roket-roket dirakit di tempat-tempat itu.

Pejuang Yang Tak Pernah Menembak
Abu Hamza, pejuang Hamas, tidak jadi menembakkan satu pun pelurunya.

Ada rumor yang berkembang di kesatuannya bahwa Israel sangat mengenal strategi bertahan Hamas sehingga mereka membatasi serangannya dengan bombardemen udara. Para komandan kesatuan Hamas mengubah strategi mereka, tetap bersembunyi sambil menantikan musuh muncul di jalanan Gaza.

Tapi di jalanan itu, Abu Hamza mendapati dirinya sendirian sambil mengokang senapan Kalashnikov buatan China, sebuah radio, sebuah kamera Nikon dan sebuah kamera video. Abu Hamza beralasan bahwa kemenangan akan ditangan jika Hamas berhasil menghancurkan satu tank Israel dan membunuh seorang tentaranya dan dia bisa mengabadikan itu semua dengan kamera videonya untuk disebarkan di Internet.

“Musuh akan melihat itu dan mereka akan takut,” berkata Abu Hamza pada dirinya sendiri. Hari-hari berikutnya, dunia perlahan terbuka matanya, setelah seruan internasional bagi diadakannya gencatan senjata semakin kencang disuarakan. Sampai saat itu lebih dari 400 warga Palestina terbunuh.

Juru bicara pemerintah Israel Mark Regev mengatakan bahwa Israel belum mencapai sasaran perangnya. “Mesin perang Hamas masih ada di sana. Masih tetap menakutkan. Ini bukan masa untuk bergembira…ini akan menjadi lebih buruk sebelum keadaan menjadi lebih baik.”

Israel melancarkan fase ketiga perangnya, invasi darat, pada 3 Januari 2009. Angkatan darat Israel membelah dua Jalur Gaza dan tank-tank mereka merangsek maju mengelilingi wilayah bekas pemukiman Yahudi di Netzarim.

Minggu 4 Januari pukul 9 pagi, tentara Israel mengetuk pintu rumah milik keluarga al-Samuni, satu klan Palestina yang tinggal di saitun, selatan Kota Gaza dimana perkebunan zaitun dan jeruk berada. Sebuah jalan berdebu menuju rumah-rumah milik klan Samuni.

Angkara Murka
Almasa al-Samuni, anak gadis cantik berusia 13 tahn, ketakutan manakala melihat tentara Israel sudah berada di depan pintu. Mereka mengenakan baju anti peluru, menyandang senapan otomatis dengan wajah dikamuflase hitam. Tentara-tentara Israel itu mendengar Almasa dan saudara-saudaranya yang lain ada di rumah pamannya, Paman Wail.

Terdengar rentetan tembakan ke seluruh penjuru, mereka berlarian ke rumah sang paman. Almasa kemudian menceritakan rumah ayahnya diledakkan. Sekitar 100 orang terpaksa berjubel menginap di rumah sang paman. Tidak ada makanan, tidak ada pula air, dan cuaca dingin sekali.

Keesokan pagi, sekitar pukul 6.30, Almasa mengikuti abangnya Mohammed (25) ke luar mencari jerammi dan ranting kering sebagai bahan bakar. Anak perempuan ini mendengar deru helikopter-helikopter, melihat abangnya ditembak mati tepat di depan matanya, sekaligus merasakan ledakan di belakangnya bersamaan dengan itu.

Tembakan itu menghancurkan rumah sang paman. Dari kesaksian sejumlah saksi, 29 orang terbunuh oleh serangan helikopter itu termasuk ibunda Almasa, Leila (40), dua abangnya yang lain Ismail (15) dan Ishak (14), dan dua adiknya Nassir (4) dan bayi lelaki Mohammmed.

Mereka yang terluka dan masih berjalan berusaha mencapai satu ambulans yang jaraknya satu kilometer dari tempat mereka. Yang lainnya tetap tinggal di rumah. Mereka tidak diungsikan sampai dua hari kemudian dan beberapa diantaranya mengalami pendarahan hingga meninggal. Di minggu-minggu berikutnya, 19 mayat lainnya ditemukan di reruntuhan bekas pemukiman Yahudi itu.

Tentara-tentara Israel itu bahkan mengungkapkan angkara murkanya pada reruntuhan rumah-rumah di mana mereka menuliskan grafiti-grafiti di dinding rumah-rumah hancur itu. Kata-kata seperti “Orang Arab itu tak ada gunanya” tertulis di salah satu dinding bersamaan dengan gambar Bintang Daud (bendera Israel) yang ditera besar-besar di dinding.

Toilet meluap, lantai dikotori kantong plastik berisi kotoran manusia. Itu adalah salah satu dari cerita-cerita sangat tragis dan tetap tak bisa dimengerti dari perang ini. Mengapa kumpulan rumah kecil yang terpencil ini dimusnahkan? Rumah-rumah itu bahkan terletak di wilayah terdalam di Jalur Gaza, bukan di wilayah pinggiran yang selama ini menjadi basis peluncuran roket-roket Palestina ke Israel.

Israel tidak mau mengomentari hal ini dengan mengatakan mereka menginginkan ada investigasi terlebih dahulu. Pada saat terjadinya serangan ke pemukiman Samuni ini, juru bicara pemerintah Israel Mark Regev berkata, “Baik penduduk Israel selatan maupun penduduk Jalur Gaza adalah korban rezim Hamas.”

Serangan ke Fasilitas PBB
Sehari kemudian pada 6 Januari, tank-tank Israel menembaki sebuah sekolah PBB di kamp pengungsi Jabaliya. Sekitar 40 orang tewas. Dalam perkara ini, wakil PBB di Gaza, John Ging, tidak lagi bisa mengendalikan kemarahannya, itu adalah sekolahnya, sekolah internasionalnya. Dia bertanya parau, lalu dimana warga sipil bisa selamat jika bukan di sini?

Ging lebih dari seorang pejabat PBB. Dia adalah manajer de facto Jalur Gaza, dimana 800 ribu orang tergantung langsung pada makanan yang didistribusikan organisasinya, dimana 250 ribu anak belajar di sekolah-sekolah yang dioperasikannya, dan dimana 10 ribu orang bekerja untuknya.

Selama hari-hari berikutnya, Ging menjadi perwakilan PBB yang paling disorot untuk waktu yang lama, muncul setiap saat di CNN, Al-Jazeera, televisi Israel dan stasiun televis pemerintah Jerman, ZDF. Dengan mengenakan jas hitam tak berdasi, dia menatap garang dan sangat tegas ke arah kamera.

Dia berbicara keras sembari menuduh: “Gudang-gudang kami. Sekolah-sekolah yang menampung para pengungsi. Laboratorium universitas! Sekolah Amerika, yang dibangun dengan dana 7 juta dolar AS (Rp77 miliar), dimana semua anak laki dan perempuan belajar bersama –dalam Bahasa Inggris (dengar baik-baik). Semuanya musnah!”

Mark Regev berkilah: “Kami melihat ada tembakan dari fasilitas PBB itu. Jika Hamas menjadikan fasilitas PBB sebagai medan pertempuran, jka Hamas mengambilalih fasilitas PBB yang mestinya menjadi sebuah fasilitas netral, maka itu adalah kejahatan.”

Sampai saat itu, perang telah berubah menjadi sebuah perang kotor. Delapan rumah sakit dan 26 klinik rusak atau dihancurkan. Bom meluluhlantakan 4.100 rumah penduduk, dan membuat 100.000 orang mengungsi menghindari kekerasan.

Fase ketiga perang dimulai Senin tanggal 12 Januari ketika tentara darat Israel bergerak memasuki Kota Gaza untuk bertempur dari rumah ke rumah. Pejuang Hamas, Abu Hamas, masih menunggu di jalanan untuk bertempur dengan tentara Israel. Tapi itu tak pernah terjadi.

Tentara Israel mendapat laporan bahwa para pejuang Hamas yang tengah mereka buru telah mereka taklukan. Perang hampir berakhir, dan Israel mengira mereka sukses dalam kampanye militernya. Kepercayaan publik pada kepemimpinan nasional juga meningkat dua kali lipat. Sampai detik ini, upaya-upaya diplomatik untuk menciptakan gencatan senjata mengambilalih peranan secara penuh.

Suara rekonsiliasi
Jumat tanggal 16 Januari, Bisan, anak perempuan dr. Ezzeldeen Abu al-Aish, membuatkan kue untuk merayakan gencatan senjata yang tampak segera tercipta. Di hari itu juga, Abu al-Aish menelepon saluran televisi Channel 10, Israel. Sebelum ini dia menyampaikan beberapa komentar sejak perang dimulai. Dia populer di Israel karena tidak pernah mengutuk atau menuduh, melainkan hanya melaporkan perang.

Dia seorang Palestina yang mampu berbahasa Ibrani dan menyebut dirinya sebagai suara perdamaian. Tapi kali ini lain, saat presenter Shlomi Eldar menerima teleponnya, tidak ada komentar sedikitpun darinya kecuali suara parau bernada penuh kebingungan.

“Anak-anakku, oh Tuhan, mereka membunuh anak-anakku,” Abu al-Aish berteriak dari rumahnya di Jabaliya, suaranya serak dengan getir kesakitan. Dua tank Israel menghancurkan rumah, dan tiga anak perempuannya –Bisan (20), Mayar (15) dan Aya (13)– meninggal.

Suara via teleponnya disiarkan langsung selama 3,5 menit, abadi terekam di televisi, para pemirsa Israel hanya mendengar suaranya sambil melihat mata Shlomi Eldar berlinang air mata. Si ayah terus berteriak dan menangis tersedu-sedu, berbicara dalam campuran Bahasa Arab dan Ibrani, mengulang-ulang kata-kata yang sama, terus-terusan: “Mengapa Tuhan, Mengapa?”

Kesedihan dan rasa sakit sang ayah memenuhi studio tv Israel itu dan ratusan ribu orang Israel lainnya di rumah-rumah mereka. Ini adalah kali pertama dalam perang ini pemira menjadi saksi penderitaan orang lain yang tidak disaring.

Peristiwa itu benar-benar mengguncang sang presenter, yang tiba-tiba merasa menjadi musuh dari seorang pria Palestina berusia 53 tahun yang anak-anaknya pernah tur perdamaian ke Amerika Serikat, seorang pria yang menyebut Israel rumah keduanya dan menggolongkan orang-orang Israel sebagai temannya, seseorang yang bekerja di Israel sebagai dokter dan membantu wanita-wanita Yahudi melahirkan anak-anaknya.

“Jujur saja saya tidak tahu bagaimana saya mesti mengakhiri wawancara ini,” kata sang presenter kepada para pemirsanya. Dia lalu berdiri, keluar dari studio dan menyeru tentara dan Palang Merah, memohon pada mereka untuk menolong anak-anak dari temannya itu.

Dia ingin sebuah ambulans Israel dikirimkan ke Gaza untuk membawa sang dokter Palestina itu dan seorang anak perempuannya yang lain yang menderita luka, ke Puskesmas Sheba di Israel dimana Abu al-Aish bekerja.

Sejurus kemudian, manakala sang presenter bertanya pada seorang juru bicara tentara Israel, sang juru bicara menjawab bahwa para penembak tepat Palestina telah menembaki tentara Israel dari rumah sang dokter.

Abu al-Aish menyanggah: “Apa yang dikirimkan anak-anak gadisku itu hanyalah keceriaan, cinta dan perdamaian, tak lebih dari itu.” Dua hari kemudian, hari Minggu, perang berakhir, untuk sementara waktu, setelah keduabelah pihak menyetujui gencatan senjata.

Lantas, sukseskah perang ini?
Israel mengatakan bahwa angkatan udaranya telah membom lebih dari 2.000 target dan menghancurkan setengah kekuatan roket Hamas, termasuk 200 rumah para komandan Gamas, semua gedung pemerintahan dan 80 persen terowongan penyelundupan.

Mark Regev berkata, “Akan lebih mudah bagi kami untuk membom saja semua kawasan Gaza untuk menghancurkan Hamas. Tapi kami lebih memilih mempertaruhkan nyawa tentara-tentara muda kami melalui taktik pembedahan lewat serangan darat untuk menghancurkan fasilitas-fasilitas militer Hamas.”

Sementara itu, Mohammed Abu Ahmed memulai lagi aktivitasnya menggali kembali salah satu terowongannya menuju Mesir. Dia berkata, terowongannya akan segera beroperasi kembali. John Ging, perwakilan PBB di Gaza, duduk di kantornya di Jalur Gaza, membuat catatan-catatan tuntutan.

Dia ingin Israel membuka semua pintu perbatasan Gaza dan menyebut perang ini hanya memperkuat ekstremisme di kedua belah pihak. Ghazi Hamad, pejabat Hamas, tidur di rumah-rumah keluarganya selama perang, meskipun rumahnya tidak terkena serangan.

Dia menyatakan bisa menerima Israel berdasarkan perbatasan sebelum Perang 1967. Dia berbicara nanyak mengenai rekonsiliasi antara Hamas dan rivalnya, Gerakan Fatah.

Anehnya, pendiriannya kini tiba-tiba menjadi lebih populer, bahkan dalam tubuh Hamas sendiri. Banyak warga Gaza yang jengkel dengan sikap kalangan garis keras yang disebut mereka telah memprovokasi perang dengan meluncurkan roket-roket mereka (ke Israel). Ezzeldeen Abu al-Aish tidak terus-terusan berduka. Dia memberikan konferensi pers dan wawancara.

Dia ingin menampakkan dirinya sebagai orang Palestina di Gaza. Dia berharap rasa sakitnya menyentuh hati rakyat Israel dan anak-anak gadisnya menjadi korban terakhir dari peperangan ini. Itu adalah misinya dan itu pula yang membuatnya bertahan selama masa-sama sulit. Lima hari setelah invasi usai, sang dokter diizinkan berkendara ke Gaza membawa serta keempat anaknya yang lain yang selamat.

Sepanjang perjalanan dia melihat tank-tank diangkut ke truk-truk raksasa, begitu Israel menarik diri dari Gaza. Bus-bus diparkir di sepanjang perbatasan menunggu untuk membawa para pengungsi. Pada waktu semua orang ingin keluar dari Gaza, sang dokter malah kembali ke ranahnya. Dia perlu ke sana.

Sang dokter Palestina ini melihat rumahnya yang hancur untuk pertama kali, dan makam anak-anak gadisnya. Tidak ada bunga di Gaza, tak ada apapun yang bisa dia taruh diatas kuburan anak-anaknya itu.

Dia kini yakin tembakan itu diletuskan oleh tentara Israel dan dia yakin telah melihat sebuah tank sebelum serangan ke rumahnya terjadi. “Itu kejahatan,” katanya untuk pertamakali menuduh Israel. Dia akan terus mengulang pernyataannya, lagi dan lagi, di kemudian hari. “Tak salah lagi. Ini disengaja.”

Keadan itu kini membuatnya sulit menjadi salah seorang pembawa pesan rekonsiliasi bagi penyelesaian konflik Israel-Palestina. Manakala Abu al-Aish meninggalkan Gaza dengan anak-anaknya, anak lelakinya bertanya, “Papa, apa orang-orang Israel itu jahat?”

Sang ayah berusaha menjelaskan tidak semudah itu menyimpulkan Israel, dengan mengatakan orang Israel ada yang jahat dan ada pula yang baik. “Saya tak ingin anak-anak saya tenggelam dalam kebencian,” katanya.

Hari sudah gelap saat mereka tiba di rumah sakit Israel. Dengan ragu-ragu, dua anak termudanya keluar dari kendaran dan berdiri mematung, dikerubungi lusinan kamera televisi. Ini adalah untuk pertamakalinya anak-anak itu menginjakkan kaki di bumi Israel. Mereka datang ke situ untuk menjenguk kakak perempuannya yang dirawat di rumah sakit Israel itu.

Kamera-kamera merekam semuanya. Para wartawan Israel menjabat tangan si anak gadis yang duduk lemah di kursi rodanya dan mereka satu persatu memeluk Abu al-Aish, berusaha menenangkannya. Semua peristiwa itu disiarkan langsung televisi Israel dan momen itu seakan sebuah upaya dari kedua belah pihak untuk menyingkirkan setan permusuhan yang lama menguasai tubuh mereka.

Antara dari Sumber: Reportase para wartawan Mingguan Jerman, “Der Spiegel”: Susanne Koelbl, Juliane von Mittelstaedt, Mathieu von Rohr, Volkhard Windfuhr, dan Bernhard Zand (Der Spiegel, 28 Januari 2009)

Ditulis dalam HISTORY. Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: