Barifola Tim Bedah Rumah ala Warga Tidore

Barifola: Tradisi gotong royong yang coba dibangkitkan di tengah masyarakat yang semakin individualistis. (foto okz)

Barifola: Tradisi gotong royong yang coba dibangkitkan di tengah masyarakat yang semakin individualistis. (foto okz)

NORMA Kaidati (40) warga Kelurahan Bastiong Karance, Kecamatan Ternate Selatan, Maluku Utara, mungkin tidak pernah menyangka rumahnya akan secepat itu dibangun. Rumah yang ditempati selama puluhan tahun bersama keluarganya, hangus hanya dalam hitungan satu jam akibat kebakaran karena berdempetan dengan sebuah bengkel beberapa waktu lalu.

Bingung, resah, sedih, bercampur menjadi satu saat warisan orang tua sejak 1960 itu ludes dilumat api. Pencariannya sebagai penjual kue dan sebuah kios kecil yang tak seberapa pendapatannya, membuat Norma tak pernah berfikir rumahnya akan terbangun lagi.

Tapi, hanya dalam hitungan jam pasca kebakaran, warga asli Tidore tepatnya dari Tomalow itu kedatangan sejumlah orang yang mengaku sebagai tim Barifola. Terang saja, perasan Norma meledak atas kehadiran mereka.

Tanpa banyak tanya, sejumlah pria itu lantas mengukur lahan norma. Hasilnya, 17 hari kemudian, rumah yang hangus total dan hanya meninggalkan lahan itu, berdiri kokoh dengan tiga kamar dan sedikit lebih “megah” dari rumah sebelumnya.

Apa itu Barifola? Banyak mungkin yang belum tahu. Tapi, Barifola sendiri adalah nama lain dari Babari atau istilah gotong royong yang lazim dipakai. Sementara Barifola lebih banyak pada membedah rumah.

Barifola sendiri merupakan tradisi asli orang Tidore yang masih dipertahankan hingga saat ini. Sempat tenggelam, Barifola muncul lagi, tapi justru di Ternate, bukan tempat asalnya.

Semenjak terbentuknya Ikatan Keluarga Tidore atau IKT Ternate di bawah pimpinan Burhan Abduracman yang juga Sekda Ternate, plus kelompok generasi mudanya atau yang dikenal dengan Garda Nuku (Nuku diambil dari nama Sultan Tidore yang menjadi pahlawan nasional), Barifola pun dimunculkan kembali.

“Tujuannya tak lain sebagai perekat persaudaraan. Sekaligus sebagai sarana untuk mempertahankan tradisi budaya yang wajib hukumnya untuk dijaga,” ujar ketua IKT, Burhan Abdurachman.

Budaya gotong royong memang bukan hanya milik orang Tidore saja. Di tiap daerah lain tentunya ada dengan nama dan ciri masing-masing. Di Maluku Utara saja banyak, seperti Sanana dengan Fagali atau Walima, Makian dengan Hapolas, dan lainnya. Tapi, dengan berkembangnya zaman yang diikuti pengaruh asing yang kuat, semangat baku bantu itu mendekati titik nadir kehilangan.

“Barifola yang sekarang dilakukan untuk masyarakat yang kurang mampu adalah kegiatan yang akan memperkuat jaringan keluarga, bukan orang Tidore, akan siapa saja yang membutukannya,” kata ketua Garda Nuku Thamrin Marsaoly.

Cara kerjanya, tanpa embel-embel. Tim yang sudah ditugasi untuk memantau siapa saja yang butuh, akan selalu bergerak di setiap titik yang ada di kota Ternate. “Biasanya kami datangi warga untuk kita mintai izin mereka agar dibolehkan merehab kembali rumahnya. Sasarannya kaum miskin, janda, yatim piatu yang memang benar-benar butuh ‘sentuhan’ Barifola,” tutur ketua tim Barifola, Nuryadi yang juga sekretaris Garda Nuku itu. Lantas, dari mana dana yang dipergunakan untuk menbangun atau memperbaiki rumah tersebut yang ditaksir jumlahnya jutaan rupiah itu?

“Itu merupakan sumbangan secara sukarela dari seluruh warga Tidore yang ada di Ternate atau para dermawan melalui dompet Barifola. Biasanya, mereka menyumbang per minggunya Rp50 ribu sampai ratusan, bahkan jutaan tanpa ada paksaan,” tambah Yadi sehari-harinya menjabat Lurah Toboko, Ternate Selatan itu.

Semenjak sejak 2007, memang sudah tak terhitung berapa banyak rumah yang berhasil dibedah tim Barifola. Istimewanya, tanpa harus membayar, para pekerja rumah itupun ikut turut menyumbangkan tenaga untuk bahu membahu.

“Biasanya mereka yang sudah dibangun rumahnya, ya dengan sumbangsih sebagai pekerja yang bekerja secara sukarela,” imbuh Yadi.

Amatan media ini, memang di hari Sabtu dan Minggu, setiap rumah yang dikenai “jatah” Barifola itu, ramai dikerubungi warga keturunan asal Tidore. “Tanpa diundang, mereka langsung saling berkumpul hanya dari informasi mulut ke mulut di mana lokasi Barifola. Disinilah kita berharap selain kepedulian, terjaga rasa persaudaraan dan persatuan. Bukan hanya bagi orang Tidore tapi semua yang merasa memilikinya,” jelas Yadi.

Tak jarang, dari gubuk, rumah tersebut dibongkar, lalu dibangun kembali fondasinya, kemudian dilanjutkan pembangunan dinding beton hingga atap yang awalnya dari rumbia diganti dengan seng.

Seperti yang dialami juga oleh Ny Khadijah yang berdomilisi di Kompleks Kedaton Tidore, kelurahan Muhajirin, Ternate Tengah. Nenek lima cucu itu kini bisa hidup tenang di dalam rumah bercat hijau yang awalnya hanya sebuah gubuk itu.

Berpenghasilan sebagai tukang cuci untuk makan sehari-hari semenjak ditinggal suaminya yang meninggal bertahun-tahun lalu, membuatnya tak pernah melihat kondisi rumahnya yang nyaris roboh itu. Tapi, berkat Barifola, cukup dua minggu saja waktu yang dibutuhkan, kini Khadijah bisa menikmati “istana” barunya itu tanpa harus dihantui rasa khawatir lagi. (okz)

Ditulis dalam HISTORY. Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: