Haram – Forbidden

DALAM akidah Islam, setiap perbuatan baik yang diawali bacaan “bismillãh” dan diakhiri ucapan “alhamdulillãh” adalah ibadah. Ada ibadah wajib, ada ibadah sunnah. Demikian juga dalam hukum: ada haram, ada halal. Dalam konteks beribadah, mengerjakan sesuatu yang haram berarti melanggar perintah Allãh alias berdosa, karenanya akan mendapatkan hukuman siksa di neraka. Bila meninggalkan yang haram artinya mendapat pahala.

Belum lama ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa “haram” bagi rokok dan bagi golongan putih yang tidak menggunakan hak pilihnya dalam Pemilihan Umum. Aneh bin ajaibnya, “pengharaman” itu tidak berlaku bagi seluruh umat Islam. Bahkan ada catatan khususnya, dalam hal merokok “haram bagi anak-anak, ibu hamil dan menyusui”. Dengan logika demikian, maka pasti daging kambing pun suatu saat akan “diharamkan” bagi para penderita darah tinggi, jantung, dan asam urat. Hukum macam apa itu?

Fatwa tersebut kalau hanya terbatas sebagai “imbauan moral” bagi Muslimin-Muslimat, tidak memasuki wilayah haram, dapat dimaklumi. Namun, karena sudah merambah pada wilayah ibadah, berbeda persoalannya. Sebab, haram dalam terminologi Islam, itu artinya kalau dikerjakan berarti melanggar perintah Allãh, berdosa, pasti akan disiksa di neraka. Atau, jangan-jangan ada motif materi dan duniawi?

“Maka, apakah mereka tidak memerhatikan al-Quran? Kalau kiranya al-Quran itu bukan dari sisi Allãh, tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya,” (QS an-Nisã [4]: 82).

Nabi Muhammad saw pun dilarang ketika mengharamkan madu, walau untuk dirinya sendiri. Karena hanya untuk menyenangkan istri-istrinya yang cemburu kepada salah seorang istri Rasulullãh yang biasa menyuguhkan madu. “Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allâh halalkan bagimu; kamu menyari kesenangan hati istri-istrimu? Dan, Allâh Mahapengampun lagi Mahapenyayang,” (QS at-Tahrim [66]: 1).

“Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allâh kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan sebagiannya halal.’ Katakanlah: ‘Apakah Allâh telah memberikan izin kepadamu tentang ini atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allâh?’,” (QS Yunus [10]: 59).

“Dan, janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘ini halal dan ini haram’, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allâh. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allâh tiadalah beruntung,” (QS an-Nahl [16]:116).

“Dan, kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku dan dari sapi dan domba, Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, selain lemak yang melekat di punggung keduanya atau yang di perut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan sesungguhnya Kami adalah Mahabenar,” (QS al-An’âm [6]: 146).

“Orang-orang yang menyekutukan Tuhan, akan mengatakan: ‘Jika Allâh menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak menyekutukan-Nya dan tidak pula kami mengharamkan barang sesuatu apa pun.’ Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan para rasul sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: ‘Adakah kamu memiliki suatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?’ Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta,” (QS al-An’âm [6]: 148).

“Katakanlah: ‘Bawalah kemari saksi-saksi kamu yang dapat mempersaksikan bahwa Allâh telah mengharamkan yang kamu haramkan itu’. Jika mereka mempersaksikan, maka janganlah kamu ikut pula menjadi saksi bersama mereka; dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, sedang mereka menyekutukan Tuhan mereka,” (QS al-An’âm [6]: 150).

“Katakanlah: ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu menyekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapakmu, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allâh membunuhnya melainkan dengan sesuatu sebab yang benar.’ Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahaminya,” (QS al-An’âm [6]: 151).

“Dan, yang Kami perintahkan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu menyerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allâh agar kamu bertakwa,” (QS al-An’âm [6]: 153).

Dari beberapa ayat al-Quran yang telah dikutip di atas, sangat jelaslah bahwa hanya Allãh SWT yang paling berhak menentukan yang halal dan haram. Bukan berdasarkan akal, apalagi dengan motif dan niat agar pihak tertentu memberikan kontribusi yang signifikan, walaupun dengan dalih untuk kemajuan umat Islam sebagai umat mayoritas di negeri ini. Fungsi akal dalam hal ini hanya terbatas memahami fakta permasalahan dan nash-nash syara’ yang berkaitan dengan permasalahan tersebut. Bukan menentukan halal-haram.

“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allãh. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik,” (QS al-An’âm [6]: 57). “Menetapkan hukum hanyalah hak Allãh. Dia memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia,” (QS Yusuf [12]: 40). “Tentang sesuatu apa pun kamu berselisih termasuk hukum, maka putusannya terserah kepada Allãh,” (QS asy-Syûra [42]: 10). Hanya Allãh yang menjadi Musyarri’ (Pembuat Hukum) dalam masalah ibadah. “Ingatlah, Menyiptakan dan Memerintah hanyalah hak Allãh,” (QS. al-A’rãf : 54). Wallãhu’alam. @

Tuisan kiriman Antho M. Massardi

Ditulis dalam AGAMA. Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: