Beras Tak Perlu Dirisaukan

Stok beras untuk kebutuhan masyarakat Maluku Utara tak perlu dirisaukan. Kini, di gudang Dolog Ternate tersedia 7 ribu ton beras untuk kebutuhan tujuh bulan ke depan.

KEBUTUHAN beras selama bulan Puasa, Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru di Provinsi Maluku Utara aman terkendali. Kini stok beras di Gudang Dolog Ternate tercatat sebanyak kurang lebih 7 ribu ton. Jumlah ini cukup untuk kebutuhan masyarakat daerah ini pada tujuh bulan ke depan. Bahkan menjelang tiga bulan stok beras habis, Dolog sudah mendatangkan. Ini dilakukan agar beras tetap ada di Maluku Utara.

Tugiyo, Kepala Sub Dolog Ternate mengaku, kebutuhan beras di Maluku Utara per bulan mencaai 1.000 ton. Dengan begitu, 7 ribu ton yang kini ada di gudang Dolog Ternate sudah mencukupi kebutuhan Maluku Utara. “Kebutuhan beras di Maluku Utara selama bulan puasa ini tak perlu dikhawatirkan,” tutur Tugiyo kepada Talenta.

Jika terjadi gejolak harga beras di pasaran, pihak Bulog mengantisipasi dengan beras cadangan dari pemerintah. Apabila harga beras melonjak, Bulog akan mengusulkan ke pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) untuk menyetujui penyaluran beras cadangan. Karena itu kata Tugiyo, pemerintah telah mengantisipasi sejak awal jika terjadi kerawanan pangan.

Menurut Tugiyo, harga pasaran umum saat ini masih stabil. Artinya belum ada gejolak sehingga pihaknya belum menyalurkan ke pasar. Sementara untuk beras miskin (Raskin), penyalurnnya ke rumah tangga diseluruh wilayah Maluku Utara. Kebutuhan beras untuk rumah tangga sudah terpenuhi sehingga mereka tidak lagi mencari beras ke pasar.

Untuk target tingkat pedagang, saat ini pihak Dolog belum menyalurkan karena masih dicukupi oleh pedagang swasta yang mendatangkan beras dengan segala merek yang tidak ada di dolog. Stok beras mereka cukup, dan jika terjadi gejolak harga Dolog dengan pemerintah daerah dan Gubernur mengajukan persetujuan penyaluran beras pemerintah melalui Menko Kesra.

Mekanismenya, operasi pasar yang dilakukan tim terdiri dari Bulog, Dinas Perdagangan, Badan Pusat Statistik (BPS) menemukan lonjakan harga beras di pasaran, maka Tim tersebut melaporkan ke gubernur. Berdasarkan laporan tim, gubernur meneruskan ke Menko Kesra untuk mengatasi lonjakan harga dengan menyetujui penjualan beras cadangan pemerintah yang ada di gudang Dolog Ternate. Menko Kesra kemudian memerintahkan Bulog Jakarta, selanjutnya Bulog Jakarta memerintahkan gudang Dolog Ternate menjual beras cadangan dan mengendalikan pasar. “Apabila terjadi gejolak harga, gubernur mengajukan surat ke Menko Kesra pasti diterima,” jelas Tugiyo.

Dolog Ternate memastikan, sampai saat ini belum terjadi penumpukkan ditingkat pedagang. Lagi pula, sejak dua tahun belakangan Dolog tidak menjual beras ke pasaran umum. Jika terjadi penumpukan, bukan beras Bulog, tapi beras swasta. Sebab distribusi beras Bulog langsung ke masyarakat melalui program Beras Miskin (Raskin). Bahkan kebutuhan Raskin untuk Maluku Utara setiap bulan mencapai 982 ton. Jumlah ini jika seluruhnya tersalur, masyarakat tak perlu ke pasar membeli beras. Sementara konsumen menengah ke atas dengan harga berapapun mereka tidak mengeluh.

Sampai saat ini belum terjadi gejolak harga. Sesuai laporan BPS harga beras selama ini stabil. Tapi kalau terjadi gejolak harga, Dolog akan menempuh jalur menjual beras langsung di pasar. Apalagi para pedagang swasta mendatangkan beras sendiri yang mereka jual. Statistik hanya memonitor apabila terjadi lonjakan akan melaporkan ke gubernur dan meminta persetujuan Menko Kesra untuk di adakan operasi pasar. Mekanisme operasi pasar tidak dilakukan setiap hari, tetapi 6 bulan sekali.

Harga beras Dolog yang dijual di pasaran umum adalah Rp 5.500. Sementara harga Raskin Rp 1.600. makanya selisih harga sebesar Rp. 3.900 disubsidi pemerintah. Karena itu operasi pasar yang dilakukan Bulog minimal harga yang jual Rp 5.500 hingga Rp 6.000. Perkembangan harga pasaran setiap Selasa atau seminggu sekali dilaporkan ke pusat.

Tugiyo yang menjabat Kepala Sub Dolog Ternate kurang lebih setahun setengah, punya komitmen akan memecat stafnya yang terbukti secara diam-diam melakukan penyelewenangan terhadap beras milik masyarakat miskin. Komitmen Bulog pelayanan sampai ke masyarakat tujuan. ”Saya selalu meminta agar staf tidak main-main dalam melaksanakan tugas. Dan paling utama barang (beras) harus sampai tujuan,” tegasnya.

Kebutuhan Raskin pada 8 kabupaten/kota di Maluku Utara setiap tahun mencapai 11.787 ton. Alokasi hingga Januari-Jali 2009 telah mencapai 100 persen selesai. Satu satunya kendala yang dihadapi Dolog dalam penyaluran Raskin ketika musim ombak. Karena itu pihaknya selalu melakukan koordinasi dengan Badan Metrologi dan Geofisika (BMG) dalam penyaluran beras Raskin ke kabupaten/kota.

Dalam penyaluran Raskin ke kabupaten/kota, titik distribusi berada pada ibukota kecamatan. Hanya Kota Ternate yang distribusinya langsung ke kelurahan-kelurahan. Di luar dari Kota Ternate titik distribusi berada di ibukota kecamatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: