Petani Kopra : Nasibmu Kini

Petani kopra di Maluku Utara keberatan mengolah kopra mereka lantaran harga tidak sebanding dengan biaya produksi dan transportasi. Dimana keberpihakan pemerintah terhadap petani?

SUNGGUH malang nasib para petani kopra Maluku Utara. Disaat harga barang dan kebutuhan sembilan bahan pokok (sembako) terus menanjak naik, justeru harga kopra dan hasil bumi lain terjun bebas. Kini, harga kopra tinggal berkisar antara Rp. 2.700 sampai Rp. 3.200 per kilogram. Paling tinggi mencapai Rp. 3.500 per kilogram, dan angka ini merupakan harga terendah pada tahun 2009 ini.

Sebelumnya, harga kopra dapat mencapai Rp. 4.000. Bagi petani kopra, harga saat ini terlalu kecil, dibandingkan beban pekerjaan, ongkos dan upah kerja selama proses produksi. Belum termasuk biaya transportasi. Harga kopra di Maluku Utara ditingkat pembeli saat ini berbeda-beda. Bahkan oknum pembeli yang cenderung mematok harga murah.

Hamir Hamzah, petani kelapa di Kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan mengaku, harga kopra di wilayahnya bervariasi. Ditingkat pembeli kopra kategori pedagang mematok harga antara Rp. 1.800 hingga Rp. 1.900 per kilogram. Para pedagang di Payahe membeli dengan harga Rp. 2.000 per kilogram. Sedangkan di Lifofa, Kecamatan Oba Selatan mencapai Rp. 2.500 per kilogram.

Karena harganya bervariasi, Hamir kadang menjual kopranya ke Payahe atau bahkan ke Ternate. Namun hasil yang diperoleh tidak dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan selama proses produksi dan lamanya pekerjaan. Itu belum termasuk biaya transportasi. Sebab itu, baik Hamir maupun petani disana keberatan mengerjakan kopra dengan kondisi harga seperti sekarang ini. ”Harga kopra terlalu murah, setelah dihitung-hitung kita hanya dapat lelahnya saja,” tutur lelaki 52 tahun ini.

Hamir berharap, Pemda ikut memperhatikan nasib petani kopra yang merupakan jumlah penduduk terbesar di Provinsi Maluku Utara ini. Mereka rata-rata menggantungkan hidup pada pendatapan hasil kopra, sementara harga sembako dan bahan lain terus meningkat.

Tak beda dengan Hamir, Budi, 28 tahun, warga Sulamadaha, Kecamatan Pulau Ternate punya alasan yang sama. Budi mengaku, merasa berat mengerjakan kopra dari miliknya maupun orang lain. Alasannya, harga kopra tak sebanding dengan biaya produksi. ”Ada yang panggil saya kerja kelapa tapi saya tolak,” ujar Budi.

Menurutnya, kondisi harga seperti saat ini, mengerjakan kopra hanya mendapatkan lelahnya saja dibandingkan hasil yang diperoleh. Itu belum dipotong biaya produksi, sewa tenaga kerja, makanan, rokok, dan biaya transportasi. Disamping, para pembeli kopra lapangan kadang berbohong dengan harga yang sebenarnya.

H.Rasyid Sillia, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Maluku Utara mengaku, harga kopra di Ternate rata-rata Rp. 3.500 per kilogram. Ada beberapa faktor yang menyebabkan turunnya harga kopra saat ini. Diantaranya pengaruh harga pasar, tidak adanya pedagang besar dan yang paling penting adalah kualitas kopra itu sendiri. “Mungkin kopra yang dihasilkan para petani kita belum cukup baik, dalam arti kopra yang dihasilkan belum masak betul dan hal itu sangat berpengaruh pada harga kopra di Maluku Utara”, tutur Hi.Rasid.

Menurut mantan Kadis Kependudukan Dan Catatan Sipil ini, harga kopra masih baik di Maluku Utara adalah Tobelo Halmahera Utara. Selain karena disana ada pedagang besar/pabrik industri yang membeli kopra masyarakat daerah sekitar untuk diolah. ”Jika saja pabrik minyak kelapa Bimoli tidak pindahkan akibat konflik beberapa waktu lalu, kemungkinan harga kopra di Ternate tidak serendah ini ” ujar lelaki yang baru 7 bulan menjabat Kadis Disperindag 7 ini.

Kopra Maluku Utara kata Rasyid, rata-rata diantarpulaukan Sulawesi dan Surabaya. Bahkan diekspor ke negara tujuan Filipina. Sebab itu untuk menjaga kestabilan harga, petani kopra diharapkan lebih memperhatikan kualitas. Karena kualitas sangat mempengaruhi harga kopra.

Sesuai hasil pantauan dibeberapa lokasi di Kota Ternate, memang terjadi perbedaan harga ditingkat pedagang. Toko Sinar Jaya yang terletak depan pelabuhan feri Bastiong misalnya, membeli kopra harian dengan harga Rp. 2.700 per kilogram, sedangkan kopra gudang Rp. 3.200 per kilogram. Sementara Toko Sempati dan UD Putra Daerah yang terletak di jantung kota, keduanya membeli kopra harian Rp. 3.000 per kilogram dan kopra gudang Rp. 3.500 per kilogram. Nah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: