Yang Senior Tak Harus Sarjana

Dari total 11.220 guru di Maluku Utara, baru 720 yang lulus sertifikasi. Sisanya 10.500 orang belum memiliki sertifikat pendidik. Guru senior yang masa dinas diatas 20 tahun atau berpangkat minimal IV/a tetap ikut sertifikasi tanpa harus sarjana.

TAK ada yang membantah, bahwa guru berada pada garda terdepan dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Mereka banyak melahirkan dokter, politisi, insinyur, menteri bahkan presiden. Karena itu, mereka disematkan sebagai ’Pahlawan tanpa tanda jasa’. Namun, nasib mereka belum sepandan dengan gelar luhur dan mulia itu.
Lewat lirik lagu “Oemar Bakri”, Iwan Fals menggambarkan nasib guru yang tak pernah berubah dari zaman ke zaman. “Datang ke sekolah membawa tas dari kulit buaya, naik sepeda kumbang di jalan berlubang, selalu begitu dari dulu waktu zaman Jepang. Terkejut waktu mau masuk pintu gerbang, banyak polisi bawa senjata berwajah garang …” Sungguh ironis, sampai-sampai polisi pun tidak lagi hormat pada guru. Begitulah sosok guru Oemar Bakri di mata sang “seniman rakyat” itu. Guru tidak lagi menjadi figur yang terhormat dan berwibawa.
Bagi Prof. DR. H.A. Syafi Ma’arif, seorang guru adalah pencetak sejarah bagi lompatan peradaban masa depan. Sejarah telah membuktikan bagaimana kiprah guru yang hanif, tawadhu, dan selalu dekat dengan Tuhan karena guru dapat mencetak manusia–manusia besar”. Guru adalah pahlawan sepanjang masa.
Kini, zaman telah berubah. Pergeseran nilai menyergap hampir semua lapis dan lini kehidupan masyarakat. Nilai-nilai keluhuran budi dan cerahnya akal budi, nyaris luntur tergerus derasnya arus modernisasi dan globalisasi yang cenderung memanjakan nilai konsumtivisme, materialisme, dan hedonisme. Banyak orang makin cuek dan masa bodoh terhadap keagungan nilai kejujuran, keuletan, atau kebersahajaan. Sukses seseorang pun semata-mata dinilai dari kemampuannya menumpuk harta, tanpa memedulikan dari mana harta itu diperoleh.
Dalam kondisi zaman seperti itu, profesi guru makin tidak dilirik dan diminati. Secara sosial, pamor guru semakin redup. Jika hanya mengandalkan penghasilan sebagai guru, hampir mustahil bisa hidup layak. Tak heran banyak guru yang terpaksa jadi tukang ojek maupun pekerjaan sambilan lain karena tuntutan kebutuhan. Mestinya, seorang guru menjalankan tugas dan fungsiya secara profesional tak lagi dibebani urusan perut dan jaminan kesehatan. Tak heran, jika mutu pendidikan jalan di tempat bahkan mengalami kemunduran.
Menariknya, data yang pernah dikeluarkan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan menyebutkan, separuh dari 2,6 juta guru di Indonesia tidak layak mengajar. Kualifikasi dan kompetensi mereka tidak cukup untuk mengajar di sekolah. Masih menurut data itu, separuh guru yang tidak layak mengajar atau menjadi guru itu sekitar 912.505. Terdiri dari 605.217 guru SD, 167.643 guru SMP, 75.684 guru SMA, dan 63.961 guru SMK.
Nah, untuk mengangkat harkat dan martabat guru pada aras yang lebih terhormat, lahirlah Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang disahkan pada 30 Desember 2005. Pasal 14 ayat (1) UU itu disebutkan, setiap guru berhak memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial.
Pasal 15 ayat (1) menyatakan bahwa yang dimaksud penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, serta penghasilan lain berupa tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus, dan maslahat tambahan yang terkait dengan tugasnya sebagai guru yang ditetapkan dengan prinsip penghargaan atas dasar prestasi. Artinya, seorang guru profesional berhak mendapatkan tambahan penghasilan yang jumlahnya sangat fantastis.
Tapi tunggu dulu! Untuk mendapatkan tambahan penghasilan yang wah bukanlah persoalan mudah. Pasal 16 menyebutkan, (1) Pemerintah memberikan tunjangan profesi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) kepada guru yang telah memiliki sertifikat pendidik yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan dan/atau satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat; (2) Tunjangan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah pada tingkat masa kerja, dan kualifikasi yang sama. Itu artinya, guru yang belum memiliki sertifikat pendidik jangan bermimpi untuk mendapatkan tunjangan profesi yang setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok.
Sebab guru yang dapat diuji sertifikasi ialah guru yang memenuhi kualifikasi akademik sebagaimana diatur dalam PP No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan UU No. 14 Tahun 2005. Untuk guru SD (atau MI), pasal 29 ayat (2) PP SNP secara eksplisit menyebutkan pendidik (guru) pada SD/MI, atau bentuk lain yang sederajat memiliki: a) kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1), b) latar belakang pendidikan tinggi di bidang pendidikan SD/MI, kependidikan lain, atau psikologi; dan c) sertifikat profesi guru untuk SD/MI. Implikasinya, untuk mendapatkan sertifikasi pendidik atau dapat diuji sertifikasi maka seorang guru SD setidak-tidaknya harus berpendidikan D-IV atau S1.
Di luar SD banyak guru SMP, SMA dan SMK yang bernasib sama; demikian pula dengan guru (pendidik) TK dan PAUD meskipun dengan variasi angka yang berbeda-beda. Itu artinya, untuk mendapatkan tunjangan profesi, guru yang belum memiliki kualifikasi akademik D-IV atau S1 harus melalui perjalanan yang cukup panjang dan berliku.
Sesuai data yang diperoleh pada Dinas Pendidikan dan Pengajaran Provinsi Maluku Utara menyebutkan, jumlah guru SD yang sementara mengikuti Kualifikasi jenjang D-IV/S1 sebanyak 855 orang. Jumlah itu terdiri dari Kota Ternate 175 orang, Kota Tidore Kepulauan 168 orang, Kabupaten Halmahera Barat 49 orang, Kabupaten Halmahera Selatan 83 orang, Halmahera Tengah 82 orang, Halmahera Utara 112 orang, Halmahera Timur 25 orang dan Kepulauan Sula 161 orang. Sedangkan guru pendidikan menengah sebanyak 132 orang terdiri dari 77 guru SMA dan 55 guru SMK.
Berdasarkan tingkatan mengajar dari berbagai jenjang, jumlah guru bidang studi Pendidikan Dasar dan SMP di Maluku Utara sebanyak 9.099 orang. Jumlah ini terdiri dari 6.693 guru SD dan 2.406 guru SMP. Sedangkan jumlah keseluruhan guru Pendidikan Menengah di Maluku Utara sebanyak 2.121 orang. Terdiri dari 1.695 guru SMA dan 426 guru SMK. Jumlah ini yang telah lulus sertifikasi selama 2006-2007 baru sebanyak 720 orang dari total 11.220 guru di Maluku Utara. Itu berarti masih sebanyak 10.500 guru di daerah ini belum mengikuti setifikasi. “Jumlah ini belum termasuk yang sudah lulus sertifikasi 2008-2009 yang belum diserahkan Unkhair kepada Dikjar Provinsi Maluku Utara,” ujar Subekti, staf Dikjar yang membidangi data sertifikasi pada Talenta.
Ternyata 720 orang guru yang telah lulus sertifikasi, baru 624 yang sudah mengantongi SK Dirjen PMPTK dari jenjang TK, SD, SMP, SMA dan SMK. Mereka telah berhak menerima tunjangan profesinya sejak 2008 lalu. Sementara sisanya 96 orang belum menerima SK PMPTK dan belum menerima tunjangan profesi. Entah apa persoalannya.
Dari 624 guru yang telah menerima tunjangan profesi itu terdiri dari Kota Ternate 233 orang, Kota Tidore Kepulauan 111 orang, Kabupaten Halmahera Barat 15 orang, Kabupaten Halmahera Selatan 71 orang, Kabupaten Halmahera Tengah 21 orang, Kabupaten Halmahera Utara 73 orang, Kabupaten Halmahera Timur 41 orang dan Kabupaten Kepulauan Sula 59 orang.
Dikjar Provinsi Maluku Utara menargetkan, pada 2010 nanti seluruh sekolah terakreditasi dan pada 2012 seluruh guru di Maluku Utara sudah memiliki kualifikasi pendidikan D-IV dan S1 serta selesai sertifikasi. Target Maluku Utara ini lebih cepat dua tahun dari program nasional, yakni pada 2014 seluruh guru di Indonesia selesai sertifikasi. “Kami hanya menerima data kelulusan dari pusat. Setifikasi dilakukan Unkhair sebagai LPTK ditunjuk pusat untuk melaksanakan sertifikasi dan dimasukkan LPMP,” jelas Subekti.
Abubakar Abdullah, Panitia Sertifikasi mengaku, pelaksanaan sertikasi guru merupakan bentuk penjabaran UU tentang guru dan dosen. Bahwa guru dan dosen wajib memiliki sertifikat pendidik, karena selama ini guru belum mempunyai sertifikat pendidik. “Sertifikasi guru dilaksanakan secara nasional sejak 2006, tetapi di Maluku Utara pelaksanaanya mulai 2007,” jelas Abubakar yang kini Kepala Biro Humas Pemda Provinsi Maluku Utara ini.
Memang untuk mendapatkan tambahan penghasilan bukan persoalan mudah. Berbagai persyaratan akan ditempuh. Salah satunya, portofolio. Kerena portofolio memuat tentang dekskripsi prestasi guru bersangkutan. Mekanismenya, portofolio diserahkan ke Asesor untuk diseleksi dengan standar 860 sebagai passing gread. Jika ternyata dibawah dari itu dianggap gugur atau tidak lulus. Meski begitu, menurut Aka—panggilan Abubakar, jika ada yang tidak lulus disebabkan portofolio kurang dari 860, akan disediakan media baru berupa Diklat atau PLPJ. Tak hanya sebatas itu, persyaratan lainnya, keterangan kedisplinan dari Kepala Sekolah, kualifikasi pendidikan S1, nomor rekening dan surat keterangan dokter mutlak dipenuhi.
Tapi ada yang melegakan bagi guru-guru senior yang masa tugasnya di atas 20 tahun. Menurut Aka, sesuai regulasi UU guru dan dosen, meski belum memiliki kualifikasi pendidikan D-IV atau S1, namun masa kerjanya diatas 20 tahun atau memiliki kepangkatan minimal IV/a mereka bisa diikutkan dalam sertifikasi berdasarkan portofolio tanpa harus bersusah payah menempuh pendidikan D-IV atau S1. “Maluku Utara memang baru dua kali sertifikasi yakni pada 2007 dan 2008 sekitar seribu tiga ratusan guru. Jumlah ini masih dibawah 5 persen dari total rasio guru di daerah ini,” tandas mantan PD III Unkhair dan Ketua KNPI Provinsi Maluku Utara ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: