Mengenal Sultan Badaruddin II

HARI Pahlawan jatuh pada 10 November 2009 lalu tak seramai hari-hari besar kenegaraan lain. Di Kota Ternate sendiri, tak ada kegiatan apapun untuk memperingati hari bersejarah itu. Namun bagi Kerukunan Keluarga Besar Sumatera Selatan (KKBSS), memanfaatkan hari pahlawan ini melakukan tabur bunga di makam Sultan Mahmud Badaruddin II.

Sultan Mahmud Badaruddin II sebelum diangkat menjadi raja bernama asli Raden Hasan Pangeran Ratu. Putra sulung Sultan Muhammad Bahauddin dan cucu Sultan Ahmad Najamuddin I ini berasal dari Kerajaan Palembang Darussalam di Sumatera Selatan. Diangkat menjadi sultan pada 1776-1803.

Sultan Muhammad Badarudin II berasal dari negeri yang jauh dari Maluku Utara. yakni silsila dan anak cucu keturunan dari kerajaan Palembang Darussalam di Sumatera Selatan. Sultan Muhammad Badarudin II adalah cucu dari Sultan Ahmad Najamudin I dan Putra dari sultan Muhammad Bahaudin.

Sultan Muhammad Badarudin II merupakan sultan Palembang Darussalam ke-7 dari sultan–sultan Palembang Darussalam sebelumnya. Sultan Mahmud Badarudin II memimpin kerajaan Palembang Darussalam selama 18 tahun sejak 1803–1821.

Delapan tahun memimpin Kerajaan Palembang Darussalam, Inggris menyerbu Palembang pada 1811. Ia kemudian hijrah ke pedalaman dan melakukan perang gerilya, sementara pemerintah kesultanan diserahkan kepada adiknya Pangeran Adipati dengan gelar Sultan Mudo. Dan oleh Inggris mengakui Sultan Mudo sebagai raja Palembang dengan gelar Sultan Ahmad Najamuddin II.

Setahun mewakilkan pemerintah kejaraan kepada adiknya, pada 1813 Sultan Mahmud Badaruddin II kembali dan mengambil kendali pemerintah kerajaan Palembang. Sebelum mengambil alih pemerintah, Sultan Mahmud Badaruddin II kembali perlawanan dengan Inggris dan Belanda pada tanggal 18 September 1812-1816.

Peristiwa perlawanan Sultan Mahmud Badaruddin II terhadap Inggris dan Belanda karena Belanda menyerahkan Palembang kepada Inggris melalui pernjanjian Tuntang pada 18 September 1811. Untuk mendukung perjanjian Tuntang, Rafles kemudian mengirim ekspedisi militer ke Palembang pada 20 Maret 1812. Akibatnya, Sultan Mahmud Badaruddin II mundur ke pedalaman dan melakukan perang secara gerilya.

Kembali sultan Mahmud badaruddin II berperang melawan Belanda, dengan serangan Muntinghe pada tanggal 1 septembar 1819, namun serangan ini dipatahkan mengakibatkan pasukan belanda mundur sampai di Muara Sungsang. Untuk menebus kekalahannya diPalembang, Pemerintah Hindiya Belanda di batavia mengarahkan kekuatan angkatan perang dibawah pimpinan jenderal Baron de Kock menyerang palembang.

Pada tanggal 10 juni 1812, sebagian dari pasukan de kock mencoba menyerang benteng Tambak Bayo dari daratan dengan membuat jalan stapak dalam hutan; mulai dari sungai Kundur ke Plaju. Gerakan ini diketahui oleh Sultan mahmud Badaruddin II, dan berhasil memukul mundur pasukan De Kock. Bersama dengan itu pula sebagian pasukan De Kock bergerak menuju Palembang, namun usaha inipun dapat digagalkan.

Kemudian pada tanggal 20 juni 1812, Jenderan De Kock mengarahkan seluruh kekuatannya menyerang benteng–benteng Sultan Mahmud Badaruddin II,. Walaupun serbuan pasukan De Kock sangant dasyat, namun pasukan Sultan Mahmud Badaruddin II dengan gencar melencarkan serangan ini.

Serangan Belanda dihentikan pada hari Jum’at tanggal 22 Juni 1812 kemudian Sultan Mahmud Badaruddin II mengira Belanda mengormati suci ummat Islam. Sultan Mahmud Badaruddin II membalas sikap Belanda tersebut dengan baik, dan memerintahkan pada hari Minggu nanti perang di hentikan untuk menghormati hari suci ummat Kristen.

Akhirnyan pada hari Minggu tanggal 24b juni 1821 dini hari, angkatan perang belanda bergerak dengan dasyat. Sedangkan Sultan Mahmud Badaruddin II mengira pertempuran dihentikan, jadi penjagaan atau pertahanan hanya dijaga oleh beberapa orang saja. Setelah Belanda menembakan mariamnya, sadarla Sultan Mahmud Badaruddin II akan siasat licik Belanda sehingga dapat menduduki benteng–benteng pertahanan Sultan Mahmud Badaruddin II.

Jatuhnya Benteng Kuto Besak pada tanggal 24 juni 1821, dan sultan Mahmud Badaruddin II bersama putera sulungnya Pangeran Ratu beserta keluarganya di asingkan Belanda ke Ternate hingga wafat, dan tercatat sebagai salah satu pahlawan nasional.

Marlison Hakim, Ketua KKBSS Ternate menuturkan, Sultan Badarudin II selain pahlawan nasinal yang berasal dari Sumater Selatan juga adalah nene–sebutan orang Palembang terhadap orang tua atau sesepuh. Sebagai anak cucu kata Marlison yang juga Kepala Bank Indonesia Cabang Ternate ini memiliki tanggung jawab moral menziarahi makam Sultan Badaruddin II. ”Apalagi ini momentum hari Pahlawan,” tuturnya.

KKBSS terbentuk sejak 13 tahun lalu atau tepatnya November 1996. Kini, Paguyuban Sumatera Selatan dengan anggota mencapai ratusan orang yang memiliki latar belakang dan pekerjaan yang berbeda. Tujuan dibentuknya kerukunan menurut Marlison, untuk menyambung silaturahmi sesama warga Sumatera Selatan di perantauan seluruh Indonesia. Kegiatan utamanya dalam bentuk kegiatan sosial kemanusiaan.

Ditulis dalam HISTORY. Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: